Entry: Bicara Tentang PeDe Monday, December 19, 2005



PeDe ? Percaya Diri ? glekk...mmm bicara tentang Pe De, yukk kita simak apa sih PeDe kata orang-orang yang PeDe....

 

Dr. Akrim Ridha dalam bukunya Menjadi Pribadi Sukses mengatakan, bahwa kepercayaan pada diri sendiri (al tsiqah bi al nafs) adalah sumber potensi utama seseorang dalam hidupnya. Jika seseorang sudah tidak lagi percaya diri, misalnya tidak percaya akan cita-cita hidupnya dan keputusan-keputusan yang diambilnya serta tidak percaya akan potensi dan segala kemungkinan dari dirinya atau al iman bi dzatil, maka hilanglah seluruh sumber potensi diri mereka.

Kemudian, menurut Paul Q. Stolzt,  kepercayaan diri dapat menghasilkan tiga cara pandang seseorang ketika memandang sebuah persoalan :

§         Mereka yang Berhenti (Quitters)

Yaitu orang-orang yang tdak percaya diri memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti ketika menemukan persoalan hidup atau sesuatu yang tidak diharapkan. Mereka menolak kesempatan yang diberikan untuk belajar mengatasi masalah. Mereka mengabaikan, menutupi, atau meninggalkan dorongan inti manusiawi untuk terus mendaki, yang berarti juga meninggalkan banyak hal, banyak kemungkinan yang ditawarkan oleh kehidupan.

Gaya hidup para Quitters, mereka selalu memilih jalan yang lebih datar dan lebih mudah. Ironisnya, seiring berjalannya waktu, mereka justru mengalami penderitaan yang jauh lebih pedih daripada yang ingin  mereka elakkan dengan memilih untuk tidak mendaki. Lebih memilukan lagi, sewaktu mereka menoleh ke belakang dan melihat bahwa kehidupan yang dipilihnya sendiri ternyata tidak menyenangkan, maka menjadi sinis, murung, danmati perasaannya. Mereka menjadi pemarah, frustasi, dan menyalahkan orang lain atas pilihan-pilihan yang mereka pilih sendiri. Inilah yang disebut oleh Daniel Goleman, penulis Emotional intellegence bahwa mereka tidak terbiasa menunda kepuasan. Hal lain dari para Quitters adalah mereka terbiasa mengatakan, "Seandainya...," sehingga kegagalan lebih sering disikapi dengan sekadar penyesalan dan bukan sikap proaktif untuk mengatasi masalah.

Rasululloh bersabda, " Bersungguh-sungguhlah kamu untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Dan Jika sesuatu musibah menimpamu, janganlah kamu katakan, "seandainya." Aku melakukan sesuatu pasti dulu begini dan begitu, tetapi katakanlah ia adalah takdir Alloh dan apa yang Alloh kehendaki pasti terjadi karena sesungguhnya kata " seandainya" membuka aktivitas setan".

Subhanalloh, rasululloh memperingatkan kita bahwa berandai-andai menandakan kelemahan kita dan akan dimanfaatkan setan. Hal ini juga dibenarkan John Greenleaf Whittier, "Dari semua sedih yang terucap atau tertulis kata-kata yang paling menyedihkan adalahkata : "Seandainya dulu....." Kata-kata itulah yang sering di lontarkan oleh para Quitters.

 

§         Mereka yang Berkemah (Campers)

Yaitu mereka yang cepat puas. Mereka pergi tidak seberapa jauh, lalu berkata, "sejauh ini sajalah saya mampu mendaki," Karena biasanya, mereka mengakhiri

pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman sebagait empat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat. Mereka memilih untuk menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan duduk disitu.

Berbeda dengan Quitters,  para Campers setidaknya telah menanggapi tantangan pendakian itu. Mereka telah mencapai tingkatan tertentu, perjalanan mereka mungkin memang mudah, atau mungkin merekatelah mengorbankan banyak haldan telah bekerja dengan rajin untuk sampai ke tempat mereka, kemudian berhenti. Pendakian yang tidak selesai itulah yang dianggap sebagai "kesuksesan". Dengan memilih berhenti dan berkemah, berarti pula sebenernya mereka tidak sukses. Hakikatnya pendakian adalah pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada diri seseorang. Berhenti sebelum mati, sama dengan bunuh diri.

Gaya hidup mereka tidak jau beda dengan Quitters hanya masalah tingkatan saja. Mereka selalu berkata, "inisudah cukup baik. " Para Campers mungkin merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang "apa yang sudah ada" dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami "apa yang masih mungkin terjadi"

Mereka tidak cukup percaya diri untuk terus mendaki, mencapai puncak dari prestasi. Leboh dikarenakankarena takut kehilangan kenyamanan dan kekhawatiran berlebih atas masa depan mereka.

 

§         Para pendaki (Climbers)

Yaitu orang-orang yang seumur hidupnya terus hidup untuk membuktikan dirinya pada "pendakian" tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan, atau kerugian, nasib buruk, maupun nasib baik, dia terus mendaki. Pernah lihat si kelinci di salah satu iklan batu baterei, kan ? Nah, seperti itulah daya juang para climbers, ia terus mendaki dengan penuh percaya diri. Ia adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan tidak ernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental maupun hambatan lain menghalangi pendakian.

Para Climbers sangat bergairah dalam menghadapi tantangan-tantangan yang teradi. Mereka sangat memahami bahwa mencapai puncak adalah perjalanan yang tidak mudah, maka Climbers  selalu mengingat-ingat semua "Kekuatan" yang diperolehnya saat perjalanan. Jika pun sesekali mereka jatuh, mereka tidak pernah menyerah sedikitpun. Kata "berhenti" tidak penah ada dalam kamus para Climbers. Keyakinan mereka begitu besar, sehingga membuat mereka bisa bertahan meskipun orang lain sudah bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa jalannya tidak mungkin ditempuh.

 

OK,  r  U  Quiiters,  Campers Or Climbers  ???!

Saatnya, Instrospeki diri dengan Pede...... :P

 

(Sumber : nyonteq  :D dari tulisannya mbak Izzatul Jannah, gpp ya  mbak ?)

   1 comments

kembaran mpit di seberang
December 20, 2005   10:06 AM PST
 
wah, nice artikel mpit ;-)

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments